Pendahuluan
Duluuuuu, sebelum saya masuk kuliah dan lagi sibuk2nya pilih penjurusan kuliah, ada seorang teman yg menanyakan saya maw masuk ke jurusan apa
Dengan tegas saya jawab teknik sipil. Kemudian dia terus bertanya, "Kenapa gaq arsitek aja?"
Jujur aja, pertanyaan ini akan sering sekali muncul. Awam yg bicara mengenai sipil dan arsitek, pasti akan langsung menganalogikan sebagai berikut, "Arsitek yang menggambar bangunan, sipil yang menghitung bangunan"
Arsitek sebagai suatu bidang keahlian memang sudah dikenal secara umum terutama di Indonesia, profesi ini memiliki pride di pandangan sebagian masyarakat
Berbeda dengan profesi keahlian teknik sipil yang tidak jelas. Maksudnya, tidak banyak yang mengenal mengenai structural engineer, foundation engineer, dan lain sebagainya
Kalau kita melihat suatu bangunan yang indah2, pertanyaan yang muncul tentunya, siapa arsiteknya? Bukan siapa yang menghitung strukturnya? Padahal umumnya, semakin aneh2 bentuk bangunan, maka menghitungnya makin susah loh, artinya makin unik bentuk bangunan, maka ahli strukturnya juga harus makin jago
Kemampuan menghitung teknik sipil tentu saja akan terpakai, karena proses eksperimen akan mahal sekali biayanya bila akan membangun struktur yang besar, seperti high rise building.
Tentu tidak ada investor (owner) yang mau membayar biaya coba2 membangun high rise building kan? Harus dihitung secara teliti dengan memperhitungkan berbagai macam resiko
Kalau dalam kasus high rise building, tentu saja lulusan teknik sipil akan bekerja menghitung pondasinya, menentukan sistem struktur, mengkalkulasi bangunan berdasarkan fungsi bangunan, menghitung metode konstruksi apa yang paling mudah dilakukan dan paling hemat, dsbLoh jadi arsiteknya ngapain donk kk? Arsitek itu akan membuat karya seni yang didasarkan oleh kemauan owner. Dalam hal ini proses transfer dari harapan si owner ke gambar, dilakukan oleh arsitek
Tapi dalam karya seni itu belum ada apa2, maksudnya gini, bagaimana penempatan balok dan kolom, bagaimana pondasinya nanti, bagaimana tulangannya, bagaimana ketahanan terhadap gempa, dll masih belum ada
Kalau dianalogikan seperti manusia, kulitnya, warnanya, wajahnya sudah ada, tapi belum tahu di karya seni tersebut belum diketahui ukuran dan dimana harus menempatkan tulang2nya. Mungkin tidak 100% tepat, tapi seringkali seperti itu
Perlu diakui kalau saat ini arsitek memiliki stigma yg wah dalam pemikiran sebagian masyarakat, karena desain arsitektur (khususnya skala rumah) yang bagus bisa dijual. Meskipun bangunan yang nantinya dibangun seringkali (artinya gaq selalu loh) hanya kelas tukang
Maksudnya kelas tukang gini, dia membangun rumah secara pengalaman. Ini tidak salah, karena dalam mempelajari apapun, umumnya ada 2 pendekatan, yaitu eksperimen dan analitis. Dalam hal ini pendekatan analitis dipelajari di teknik sipil
Bandingkan dengan lulusan sipil yang bisa membangun bangunan yang kokoh, namun tidak cantik, sehingga tidak ada nilai jual. Ini menjadi alasan penting mengapa profesi teknik sipil kurang terkenal
Apa kelebihan standar tukang?
1. Lebih murah, karena tidak perlu membayar jasa lulusan teknik sipil
2. Dijamin oleh tukang2 berpengalaman yang terbukti belum pernah ada rumah yang dibangunnya roboh, seperti Saya uda bangun rumah dari tahun 70an, smuanya masih berdiri tuh, gaq ada yg roboh! (Tahun 70an aj saya blm lahir, masa saya gaq percaya sih, he3)
Namun, ada masalah yang mungkin tidak dipahami oleh tukang, contohnya seperti:
1. Ketahanan terhadap gempa. Karena gempa jarang sekali terjadi, tukang umumnya tidak memiliki cukup pengalaman untuk menganalisis mengapa bangunan yang dibuatnya rusak/tidak saat gempa
(ingat, kemampuan tukang membangun rumah berdasarkan eksperimen/pengalaman/coba2)
2. Karena tidak memiliki ilmu mekanika yang cukup, misalnya dalam masalah penentuan jumlah tulangan baja saat membangun rumah, penentuan ukuran kolom, tentunya kekokohan suatu bangunan tidak seragam
Bila dia tukang baru, mungkin kolomnya akan besar2 dan tulangan bajanya banyak karena takut bangunannya roboh
Sedangkan tukang berpengalaman akan sangat hemat dalam penggunaan tulangan baja. Toh bangunannya tidak runtuh, padahal ada standar2 faktor keamanan yang telah disepakati berdasarkan penelitian2
Bagaimana arsitek mendesain bangunan yang baik dan kokoh secara struktur kalau prinsip2 sistem struktur bangunan tidak dipahami dengan baik
Sebaliknya bagaimana sipil bisa lebih mandiri kalau tidak memahami desain bangunan dengan baik. Toh pengaturan ruang yang tidak baik pasti membuat bosan orang yang tinggal di dalamnya
Sipil - Arsitek
Mungkin bagi sebagian orang awam akan bertanya2, mengapa sipil - arsitek yang jadi topik pembahasan, bukan sipil - mesin, arsitek - elektro, dsb. Hal ini disebabkan karena adanya komunikasi yang sering kurang lancar antara sipil dan arsitek
Arsitek dan sipil memiliki orientasi cara pikir yang berbeda. Arsitek akan berpikir soal keindahan, sedangkan sipil berpikir soal kekokohan
Dalam hal ini bangunan seharusnya memiliki kedua aspek tersebut, keindahan dan kekokohan, namun umumnya orang akan percaya apa yang sudah dilihat, mereka kurang aware terhadap sesuatu yang belum dilihat
Padahal kalau kita lihat masa perkuliahan, mau lulus dari jurusan sipil itu lama loh. Rata-rata lulusan sipil itu lulus dalam jangka waktu 4,5 sampai 5 tahun meskipun program paketnya 4 tahun (lama banget kan...)
Nah kalau masalah keindahan di arsitek dan kekokohan di sipil digabung, butuh berapa lama waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan perkuliahan? Bisa makin lama kan
Kalau kita lihat lulusan yang lulus baik dari arsitek maupun sipil, gaq bekerja di bidang tersebut. Sudah barang umum kalau lulusan sipil/arsitek kerja di bank, di perusahaan otomotif, dsb.
Artinya kalau digabung juga gaq memberikan solusi yang baik kan. Masalahnya pendidikan itu kan tujuan akhirnya seringkali untuk memperoleh derajat hidup yang lebih baik (baca: duid)
Contoh dari pola pikir yang beda tersebut, seperti dalam kasus bangun-membangun, arsitek ingin bangunan tanpa kolom agar banyak ruang kosong untuk membuat sekat2 bangunan dengan bebas, sebaliknya sipil lebih suka membuat bangunan sederhana dengan kolom2 berbaris rapi
Setahu saya, banyak jurusan2 arsitektur yang sudah tidak memiliki mata kuliah mekanika teknik lagi sehingga dalam praktek di lapangan, komunikasi menjadi nggak nyambung
Sebagai seorang lulusan sipil, menurut saya rasa2nya perlu ada orang2 sipil yang kearsitek2-an dan orang2 arsitek yang kesipil2-an
Tujuannya agar komunikasi diantara keduanya bisa tetep nyambung gitu. Meskipun masing2 pada akhirnya setiap bidang studi memiliki penekanan masing2
Soal keindahan, penghawaan, dan tata ruang, tentunya lulusan sipil perlu banyak belajar kepada arsitek. Sedangkan soal penentuan sistem struktur, masalah pondasi, serta aliran gaya tentunya arsitek perlu belajar dari sipil
Khusus soal mekanika teknik dasar, menurut opini saya, mata kuliah ini sesungguhnya wajib ada di pendidikan arsitektur agar calon arsitek bisa memahami desain yang mereka buat (gaq bikin sistem struktur sembarangan gitu)
Kembali ke pertanyaan dikotomi sipil - arsitek khususnya di Indonesia, mungkin yang jadi poin bukan masalah ada atau tidak perbedaannya, tapi bagaimana bisa membuat keduanya nyambung gt saat berkomunikasi dalam membuat desain
Artinya bukan dikotomi itu yang ingin ditekankan, melainkan dasar2 pendidikan yang diperlukan (baca: kurikulum), misalnya pendidikan sipil perlu memasukkan masalah tata ruang, sedangkan pendidikan arsitek perlu memasukkan dasar mekanika struktur
Namun jangan sampai kebablasan, karena setiap bidang ilmu kan pasti ada tujuannya masing2. Disini tujuannya adalah agar bagaimana kebutuhan standar untuk berkomunikasi antar dua bidang ilmu tersebut bisa tercapai
Memadukan seni dan analisis struktur memang tidak mudah. Kalau kata ahli2, untuk berimajinasi kita menggunakan otak kanan, sedangkan untuk menghitung kita menggunakan otak kiri. Tidak bisa dibantah kalau kebanyakan orang hanya dominan di salah satu bagian
Tentu saja bila sipil dan arsitek bertemu, mereka seperti sepasang kekasih, bilangnya benci, tapi sebenarnya saling membutuhkan, he3
Ada opini lain?
~Mi~
mana POSTER-nya ?
9 hours ago
4 Komentar:
jems..
memang kalo kita melihat bangunan itu bgs..yg kita tanya siapa arsitekny..bukan teknik sipilny..
ini merupakan tanda kalo kt memang melihat keindahan jasmaniny dulu, baru otak dibalik bangunanny itu..
ibaratnya arsitek itu ce tekni sipil itu co kali yah..berbeda..tapi saling membutuhkan..lol
@kupakopi
Yups, tp kalo arsitek melakukan kesalahan, maksimal bangunan jadi keliatan jelek
Coba apa yg terjadi klo teknik sipil salah ngitung bangunan? Kalo sampe roboh, hotel prodeo ud menunggu, he3
dydha
ahh ga juga buktinya gw cewe di sipil tetep survive ko... hhehhhe ... sipil tu mengasyikan lagiii....
ahh ga juga buktinya gw cewe di sipil tetep survive ko... hhehhhe ... sipil tu mengasyikan lagiii....
Post a Comment