Uhhh cerita ini da berlangsung beberapa tahun yg lalu, seinget gw, kira2 6-7 tahun yang lalu, kejadiannya diawal2 masa gw SMU. Gw cba tumpahkan disini agar otak gw bisa bekerja memanggil kembali data yg uda disimpen di bagian pojok dari gudang di otak gw, bagian yg slama ini jarang tersentuh lagi
Cerita diawali dengan adanya program karyawisata dari SMU (duhh skarang ga pake nama SMU lage ya). Program ini diadakan untuk anak2 dari organisasi pelajar yg diakui di sekolah (a.k.a OSIS) tapi bagi anak2 yg maw ikut, diperbolehkan jg untuk mendaftar
Tempat tujuan karyawisata adalah Gunung Gede atau kadang juga disebut Gunung Pangrango atau nama resminya Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Rencananya anak2 OSIS ini bakal hiking disana plus ditemani oleh beberapa guru sekolah sebagai pembimbing
Sekilas mengenai kepercayaan setempat
Sejarah dan legenda yang merupakan kepercayaan masyarakat setempat yaitu tentang keberadaan Eyang Suryakencana dan Prabu Siliwangi di Gunung Gede. Masyarakat percaya bahwa roh Eyang Suryakencana dan Prabu Siliwangi akan tetap menjaga Gunung Gede agar tidak meletus. Pada saat tertentu, banyak orang yang masuk ke goa-goa sekitar Gunung Gede untuk semedhi/ bertapa maupun melakukan upacara religius
Acara ini sifatnya gaq wajib. Lebih ke arah untuk meningkatkan kebersamaan. Akibat dari aturan seperti itu, bnyak siswa yang memilih gaq ikut. Kenapa? Alesannya gampang, karena ini hiking, bnyak pemudi2 yg males dengan alasan karena bikin cape. Ditambah lagi karena acara ini dilangsungkan pada hari minggu dimana keesokan harinya (senin) gada alasan buat anak2 yg ikut acara ini untuk bolos sekolah
Minggu pagi kami semua berkumpul, rencananya berangkat dari skolah pukul 6 pagi, seperti biasa pukul 6 pagi ditetapkan untuk mengantisipasi mereka yang datang jam setengah 7, atau bahkan jam 7
Kami akan berangkat pagi2 dengan bus yang disewa sekolah. Seperti biasa sebelum pergi ada pengarahan singkat dari guru pembimbing mengenai keselamatan selama hiking, tidak membuang sampah sembarangan, atau hal2 lain seperti menjaga kesopanan selama di "tempat orang"
Setelah pengarahan selesai, kami membawa perlengkapan2 kami. Gw juga dengan cueknya naik keatas bus, memilih duduk di bagian kursi sebelah kiri. Motivasi gw sendiri ikut di acara ini adalah tidak ada, maksudnya daripada hari minggu dilewati membosankan seperti minggu sebelumnya atau minggu-minggu sebelumnya, lebih baik gw ikut acara yg blm tentu jelas manfaatnya ini
Bus tersebut adalah bus ukuran sedang tanpa AC. Pastinya bukan bus kelas pariwisata yang mewah karena acara ini sifatnya terbatas, maka sekolah tentunya hemat2 dalam pengeluaran biaya
Orangtua2 siswa menunggui para siswa tersebut sampe sebelum bus mereka benar2 berangkat. Beberapa anak termasuk gw melakukan prosesi peluk2an atau melambaikan tangan yg menurut gw lebih merupakan kebiasaan daripada didorong oleh sebuah kebutuhan
Didalam bus, beberapa anak tersenyum melambaikan tangan, sisanya duduk berbicara dengan lainnya, sebagian lagi sibuk dengan barang bawaannya, gw seperti biasa hanya mengamati, duduk manis dengan sedikit ekspresi dengan berharap orang lain tidak bisa menebak maksdnya
Perjalanan berlangsung tanpa hambatan, kami langsung menuju ke gunung gede, karena perjalanan ini akan dilakukan pulang pergi, alias tanpa menginap. Tidak ada kemacetan yang menghalangi perjalanan ini, hanya sesekali beberapa siswa ada yang bergantian minta berhenti untuk buang air kecil. Umumnya pemberhentian dilakukan di pompa2 bensin yg tersebar sepanjang perjalanan kami
Beberapa toilet2 tersebut banyak yang kurang layak, misalnya dari penerangannya, maupun kebersihannya, namun membayar 500 rupiah adalah wajib hukumnya baik toilet tersebut layak ataupun tidak
Selama dalam perjalanan, layaknya anak2 SMU kami saling bermain tebak2an, beberapa orang bernyanyi, sebagian menyimpan tenaga dengan tertidur pulas, lainnya makan-makanan yang mereka bawa, ada juga yang bercakap2 dengan bapak ibu guru pembimbing acara jalan2 ini
Setelah bis merayap memasuki daerah parkir gunung gede. Kami mulai mmpersiapkan barang2 kami. Ketika bus telah menemukan tempat yg enak buat nongkrong, siswa2 keluar dari bus
Angin segar menyambut kedatangan kami, sebuah barang mahal di jakarta, rasanya tetap berbeda dengan angin AC dari Mall2 yg biasa kita datangi atau bahkan dari ademnya gedung bioskop, ada sensasi yang berbeda yang gw rasakan
Rencananya gw akan hiking pake sendal, entah karena bodohnya atau ketidakpedulian gw. Toh rencananya perjalanan hanya sampai ke Air Terjun Cibeureum dimana pendakian dilakukan dari arah Cibodas yang dalam pikiran gw artinya "tidak jauh"
Siswa2 rencananya akan berjalan beriringan, namun prakteknya ada yang terlalu lambat sehingga yang merasa cepat pasti akan berjalan duluan tanpa mengindahkan yg lain. Kebanggaan dan pengakuan kehebatan itu kan yg slalu dicari, baik sadar atau tidak sadar
Satu guru pembimbing berjalan bersamaan dengan rombongan paling depan. Gw karena tidak terlatih dan terlalu lama bnyak duduk membaca saja tanpa berolahraga, tentu saja ngos2an, meskipun relatif treknya tidak terlalu sulit. Cuaca saat itu cerah, tidak ada hambatan berarti, angin semilir meniup keringat yg membasahi tubuh, membuat tubuh mengigil
Gw sendiri mungkin berada di grup setelah yg terdepan, sesekali beristirahat mengambil nafas sekitar 5 menit sebelum melanjutkan perjalanan. Minimal 2-3x gw berhenti untuk beristirahat sejenak. Kelelahan mulai melanda dan air minum tidak memberikan kelegaan. Kelelahan adalah suatu fenomena saat beban yang sama akan terasa semakin berat meskipun kenyataannya beban tersebut tetap
Selang sekitar 1 jam atau 2 jam lebih mendaki, akhirnya tampak juga tempat yang dikenal sebagai Air Terjun Cibeureum. Suhu udara saat itu sepertinya cukup rendah. Air cipratan dari air terjun itu juga sangat dingin, sementara itu hujan rintik2 mulai membasahi daerah Gunung Gede
Beberapa teman mulai bergaya di samping air terjun sambil menunggu satu demi satu anggota rombongan tiba di tempat tersebut. Kesegaran air seperti itu adalah hal langka bagi orang Jakarta yang hanya pernah melihat kali dengan airnya yang hitam serta tumpukan barang2 hasil peradaban manusia
Setelah semua rombongan datang, seperti biasa, dilakukan foto bersama rombongan, serta ngobrol2 sebntar, sambil menunggu mereka yang baru datang untuk beristirahat
Karena hujan rintik2 terus turun, maka diputuskan untuk segera kembali, khawatir kalau hujan turun semakin deras dan membuat trek menjadi lebih sulit dilewati (karena licin)
Huf, bener aj, sebagian ceruk2 yang tadinya hanya berbatu2 kini sekarang diisi air, sebagian tempat menjadi licin dan perlu hati2 dalam melewatinya. Perjalanan turun tidak terasa cepat sekali dilewati, tidak seperti naiknya yg penuh dengan kesengsaraan
Setelah sampai dibawah, gw sempat bertemu dengan seorang guru perempuan yang ternyata tidak ikut naik keatas dan hanya menunggu dibawah. Beberapa teman yang berjalan bersama gw waktu turun tadi bergegas kembali ke bus
Gw sendiri gaq langsung ke bus, tapi berusaha mencari tukang penjual minuman yg masih buka plus ingin buang air kecil. Ini akibat kebnyakan minum waktu beristirahat saat perjalanan naik tadi
Setelah itu, hujan sudah berhenti dan gw ingin segera kembali ke bus. Tetapi.... WTF? Gw ksana ksini tapi gaq ketemu yg mana bus gw, buset, setelah nyari selama 15 menit gaq ktemu, koq tiba2 gw jadi agak panik
Kepanikan bertambah karena hari makin gelap, gaq seperti pinggir2 jalan di Jakarta yang masi ditemani penerangan seadanya dari lampu2 jalan. Kegelapan malam itu benar2 gelap
Saat itu penggunaan HP blm seperti saat ini, harga HP dan sim-cardnya masih mahal dan blm semua orang pnya. Termasuk gw saat itu, gaq bole bawa HP soalnya tujuannya hiking, takut ilang/jatuh saat mendaki
Entah karena kepanikan gw, atau naluri gw untuk pulang, atau karena ketenangan gw? Setelah mencari2 lagi dan belum ketemu jg, akhirnya gw liat salah satu bus wisata yang ada disitu, langsung aj gw nanya tujuan mereka dan ngomong langsung buat minta numpang ikut sampe Jakarta
Gila? Yap, gw gila, toh manusia tidak ada yang gila/waras, itu hanya dualisme saja, gada yg benar2 berada pada kedua kutub ekstrim tersebut
Gw numpang dengan bayar 20ribu. Ternyata ini adalah rombongan orang batak, sepanjang perjalanan mereka bernyanyi puji2an terus, sambil ngobrol2 dengan gw tentang rombongan gw dan sebagai2nya
Sampe di terminal pulogadung, saat itu sekitar jem 10/11 malam, langsung cari taksi dan menyatakan tujuan gw tanpa basa basi. Untuk jarak yang begitu jauh, dari Pulogadung sampe ke daerah Jakarta Barat, gw membayar kurang dari 50ribu
Hufff, ada satu perasaan lega karena sepertinya smuanya sudah beres
Selesai? Engga!! Lah koq malah nyokap gw syok gt pas gw plang. Gw aj dengan santenya blang gw plang sendiri, wkwkwk
Ternyata saat itu temen2 gw ngira gw hilang dan saat itu mereka masih nungguin gw dsana, mereka gaq mo balik klo gw blm ketemu. I'm touched, pdahal saat itu kan pada gaq bawa jket tebel karena gaq ada rencana buat nginep. Akibatnya senennya banyak yg gaq masuk
Selama sebulan ato lebih hal ini terus jadi cerita, konon nama gw sudah disebarkan di radio El Shinta bila mungkin gw ditemukan. Ato ada cerita lainnya yang bilang kalo ada orang yang "liat" gw da diculik penjaga gunung, hehehe
Bukan mereka aja yg repot, gw jg repot karena gw bertanggungjawab untuk men-telp mereka dan mengklarifikasi kejadiannya. Karena saat itu ada rumor yg blang gw sengaja pulang
Bahkan hingga sekarang itu jadi kenangan yang lucu. Si Anak Hilang akan tetap jadi sebuah cerita, yeah I was lost, but I found my way back home
Sumber:
- http://www.dephut.go.id
- http://gedepangrango.org
- http://farm4.static.flickr.com/3294/2950668445_829924b0e0.jpg?v=0
~Mi~
mana POSTER-nya ?
9 hours ago
4 Komentar:
Ceritanya seru... Nggak kebayang sendirian di daerah pegunungan dengan bekal ala kadarnya...
BTW, kenapa bisa nyasar begitu yak?... Jalannya terlalu jauh atau memang kecapean dan nggak konsen?... (*penasaran*)
Untung deh pulang dengan selamat...
@Felicity
Wah iya, untung kembali dengan slamat. Kalo gaq bisa lebih hebat lagi, masuk ke pojok kecil koran, dengan headline "TELAH HILANG ...."
Gaq taw ya knapa waktu itu gaq ketemu, mngkin waktu itu kecapean, trus kan dah gelap tuh, gaq kek di jakarta yg bnyak lampu penerangan, dsana bner2 gelap, klo dah malem ya gelap bnget. Pdahal itu di pelataran parkir....
hihihii.. ilangnya bukan di Gunung-nya dong James, tapi ketinggalan bus.. hihi.. Btw, gw belom pernah ke Gede Pangrango, bukannya di Puncak gitu ya James? Jauh dari kota-nya gak sih? Apa masuk ke parkirannya juga udah masuk ke pelosok hutan juga?
Btw, ada 2 point..
1. Udara gunung beda ama AC mall atau bioskop.. bener banget.. AC itu kerasa banget dingin artificial dari bau-nya..
2. Pake sendal buat naek gunung, gw mah prefer sepatu james, supaya lebih gampang gerak. Apalagi kalau udah masuk lumpur, bisa habis lah itu sendal..
@agn
Gaq ketinggalan juga sih, cma gw kira gw ditinggal, hahaha. Kalo mo ke air terjunnya itu harus lewatin hutannya, itu klo gaq salah jadi titik temu ke 1
Soal sendal sih bner, gw salah, waktu itu kan gaq taw, hahaha
Post a Comment